MAJALAH NARASI– Di tengah rutinitas sekolah yang biasanya langsung masuk kelas, SDN 1 Natar punya kebiasaan yang sedikit berbeda dan cukup “adem”: sebelum pelajaran dimulai, siswa lebih dulu diajak shalat duha berjamaah setiap pagi.
Program ini bukan sekadar formalitas, tapi sudah jadi budaya harian untuk membangun karakter islami sejak dini.
Bukan Guru, Tapi Siswa yang Jadi Imam
Yang bikin unik, posisi imam dalam shalat duha ini bukan dipegang guru, tapi justru siswa secara bergantian.
Syaratnya juga nggak main-main. Siswa yang jadi imam harus sudah lancar membaca Al-Qur’an, punya hafalan surat pendek (juz amma), dan bacaan yang jelas.
Artinya, ini bukan cuma ibadah bareng, tapi juga jadi ruang latihan mental, keberanian, dan kemampuan agama siswa.
Rutinitas yang Sudah Terjadwal Rapi
Kepala SDN 1 Natar, Yuniar, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah jadi sistem yang terjadwal:
- Senin: Upacara bendera
- Selasa–Kamis: Shalat duha berjamaah
- Jumat: Senam bersama
Begitu bel masuk berbunyi, siswa langsung berbaris rapi di halaman sekolah yang sudah disiapkan untuk kegiatan ibadah.

Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Pembentukan Karakter
Menurut Yuniar, tujuan utama program ini bukan cuma soal ibadah di sekolah, tapi membangun kebiasaan baik yang bisa terbawa ke luar lingkungan sekolah.
“Tujuannya adalah menanamkan pembiasaan yang baik sejak dini melalui shalat duha,” ujarnya.
Harapannya, siswa tidak hanya rajin saat di sekolah, tapi juga terbiasa menjalankan ibadah secara mandiri di rumah atau di mana pun mereka berada.
Pendidikan yang Nggak Cuma Akademik
Program ini jadi contoh bahwa sekolah dasar sekarang nggak cuma fokus ke nilai ujian atau ranking kelas, tapi juga ke pembentukan karakter.
Di SDN 1 Natar, belajar bukan cuma soal buku dan papan tulis, tapi juga soal kebiasaan, disiplin, dan nilai spiritual yang dibangun pelan-pelan setiap hari.
Dan ya, konsepnya sederhana tapi ngena: kalau kebiasaan baik dibangun dari kecil, biasanya bakal kebawa sampai besar.***














