• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan & Kerjasama
  • Kontributor
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontak
Tuesday, May 26, 2026
Majalahnarasi.id
Advertisement
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
Majalahnarasi.id
No Result
View All Result
Home Berita Pendidikan

Pendidikan Kita Belum “Bangkit”: Menggugat Formalitas Harkitnas 2026 di Sekolah

by Melda
May 25, 2026
in Berita Pendidikan
Pendidikan Kita Belum “Bangkit”: Menggugat Formalitas Harkitnas 2026 di Sekolah

Peringatan Harkitnas 2026 dinilai masih terjebak formalitas dan nasionalisme kosmetik di sekolah. Di balik konten estetik dan digitalisasi pendidikan, dunia pendidikan Indonesia dinilai belum benar-benar bangkit secara merata dan mendalam.

588
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MAJALAH NARASI- Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tahun 2026 dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” telah usai digelar. Di atas kertas dan layar gawai, kita disuguhi pemandangan megah: upacara hybrid yang canggih, pameran inovasi digital siswa SMA, hingga adu konten kreatif estetik di media sosial. Namun, di balik riuh rendah perayaan digital tersebut, dunia pendidikan kita sebenarnya sedang mempertontonkan ironi besar. Harkitnas di lingkungan sekolah saat ini terjebak dalam jebakan Batman bernama “nasionalisme kosmetik” dan formalitas musiman.

Jika kita berani menilik lebih dalam ke ruang-ruang kelas dari tingkat SD hingga SMA, esensi kebangkitan yang dicita-citakan sejak era Boedi Oetomo 1908 terasa kian menjauh, tergerus oleh tuntutan administratif dan modernisasi yang dipaksakan.

Jebakan Kosmetik Digital dan Kesenjangan Nyata

Berita Lainnya

Publik Pertanyakan Transparansi Dana Perpisahan di SMPN 22 Bandar Lampung

Panji Padang Ratu: SMA Swasta Siger Contoh Buruk Tata Kelola Pendidikan

Klaim Pendidikan Gratis, Siswa Tetap Beli Modul

Di tingkat SMA dan SMP, jargon “kedaulatan digital” diagungkan seolah-olah ruang siber kita sudah sepenuhnya merdeka dan sehat. Faktanya, literasi digital yang digaungkan sekolah sering kali hanya menyentuh permukaan. Siswa kita sangat mahir membuat video pendek yang viral atau poster digital yang memanjakan mata demi mengejar nilai tugas. Namun, begitu momentum 20 Mei lewat, ruang digital mereka kembali dipenuhi oleh realitas yang kelam: maraknya perundungan siber (cyberbullying), ketergantungan pada gim online, hingga paparan judi online yang kian mengkhawatirkan.

Nasionalisme yang lahir dari gawai ini bersifat musiman. Anak-anak muda mampu merayakan Harkitnas di media sosial tanpa pernah benar-benar memahami mengapa Dr. Soetomo dan para pemuda masa lalu berkumpul mendirikan organisasi pergerakan. Di sisi lain, tema digitalisasi ini terasa seperti ejekan bagi sekolah-sekolah di wilayah pelosok atau 3T. Saat sekolah di kota besar memamerkan robotika dan siaran langsung upacara tanpa hambatan, rekan-rekan mereka di daerah terpencil masih berjuang dengan atap kelas yang bocor dan ketiadaan sinyal internet. Harkitnas 2026 justru mempertegas sekat kesenjangan sosial dalam pendidikan kita.

Guru yang Terbebani dan Kehilangan Ruh Keteladan

Guru, yang seharusnya menjadi motor penggerak kebangkitan di sekolah, kini bernasib tak ubahnya mandor administrasi. Bagaimana kita bisa menuntut tenaga pendidik melakukan kontekstualisasi sejarah yang mendalam jika waktu mereka habis disita untuk mengisi platform penilaian dan dokumen birokrasi? Akibatnya, amanat pidato menteri dalam upacara Harkitnas dibacakan secara monoton, hambar, dan satu arah. Tidak ada ruang diskusi, tidak ada dialektika yang merangsang daya kritis siswa.

Lebih menyedihkan lagi adalah krisis keteladanan. Sekolah menuntut peserta didik tingkat SD hingga SMA untuk disiplin, jujur, dan bijak memfilter informasi. Namun, di ruang guru, tidak jarang kita menemui realitas di mana oknum pendidik sendiri masih gemar menyebarkan berita bohong (hoaks) di grup obrolan, tidak disiplin waktu, atau melakukan plagiarisme akademik. Nilai-nilai kebangkitan tidak akan pernah tumbuh dari instruksi, melainkan dari contoh nyata yang konsisten.

Mengembalikan Ruh Boedi Oetomo ke Ruang Kelas

Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), esensi kebangkitan harus dikembalikan pada hal-hal mendasar: pembentukan karakter, budaya antre, kejujuran, dan rasa hormat. Pada tingkat SMP dan SMA, tantangannya adalah mengubah siswa dari sekadar konsumen teknologi yang reaktif menjadi pemikir kritis yang adaptif. Kebangkitan nasional di sekolah tidak boleh diukur dari seberapa canggih kamera yang menyiarkan upacara atau seberapa banyak jumlah likes pada konten Harkitnas milik sekolah.

Jika sekolah hanya mampu melahirkan generasi yang pintar membuat konten tetapi tumpul rasa kepedulian sosialnya, maka kita sedang menuju kebangkrutan moral, bukan kebangkitan nasional. Sudah saatnya kita membongkar formalitas ini. Mari jadikan Harkitnas sebagai momen refleksi yang jujur untuk membenahi kualitas fundamental pendidikan kita, bukan sekadar menjadikannya konten tahunan yang estetik namun kosong.Makna (Vivo Trialito)***

Source: MELDA
Tags: generasi zHari Kebangkitan NasionalHarkitnas 2026Kritik Pendidikanliterasi digitalnasionalisme digitalpendidikan Indonesiapendidikan modernsekolah Indonesiasiswa SMA
Previous Post

Pernah Dipuji Bak Superhero, Kini Purbaya Dihantam Kritik Ekonomi

Melda

Melda

Related Posts

Publik Pertanyakan Transparansi Dana Perpisahan di SMPN 22 Bandar Lampung
Bandar Lampung

Publik Pertanyakan Transparansi Dana Perpisahan di SMPN 22 Bandar Lampung

by Melda
May 21, 2026
Laskar Lampung Nilai Pengamanan Aset Pemkot Bandar Lampung Tidak Adil
Bandar Lampung

Panji Padang Ratu: SMA Swasta Siger Contoh Buruk Tata Kelola Pendidikan

by Melda
January 30, 2026
Klaim Pendidikan Gratis, Siswa Tetap Beli Modul
Bandar Lampung

Klaim Pendidikan Gratis, Siswa Tetap Beli Modul

by Melda
January 27, 2026
Hibah Masuk, Legalitas Nyusul (Atau Tidak Sama Sekali)
Bandar Lampung

Hibah Masuk, Legalitas Nyusul (Atau Tidak Sama Sekali)

by Melda
January 26, 2026
Panggung Sunyi, Suara Puisi Siswi SMK Samudera Bikin Penonton Terpukau
Berita Pendidikan

Panggung Sunyi, Suara Puisi Siswi SMK Samudera Bikin Penonton Terpukau

by Melda
January 20, 2026

Recommended

DWP Pringsewu Gelar Muskab V, Dorong Transformasi Organisasi Menuju Indonesia Emas 2045

DWP Pringsewu Gelar Muskab V, Dorong Transformasi Organisasi Menuju Indonesia Emas 2045

September 29, 2025
Janji Sekolah Gratis Wali Kota Eva Dwiana Goyah: SMA Siger Kedapatan Jual Modul Rp 15 Ribu per Buku

Janji Sekolah Gratis Wali Kota Eva Dwiana Goyah: SMA Siger Kedapatan Jual Modul Rp 15 Ribu per Buku

October 1, 2025

Categories

  • Bandar Lampung
  • Beasiswa & Karir
  • Berita Pendidikan
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Literasi & Budaya
  • Metro
  • Multimedia
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Riset & Opini
  • Tanggamus
  • Teknologi Pendidikan
  • Tips Belajar & Ujian
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Don't miss it

Pendidikan Kita Belum “Bangkit”: Menggugat Formalitas Harkitnas 2026 di Sekolah
Berita Pendidikan

Pendidikan Kita Belum “Bangkit”: Menggugat Formalitas Harkitnas 2026 di Sekolah

May 25, 2026
Pernah Dipuji Bak Superhero, Kini Purbaya Dihantam Kritik Ekonomi
Pemerintahan

Pernah Dipuji Bak Superhero, Kini Purbaya Dihantam Kritik Ekonomi

May 25, 2026
Pemeliharaan Sistem Regional Sumatra Berlangsung 12 Jam, Internet Berpotensi Putus
Pemerintahan

Pemeliharaan Sistem Regional Sumatra Berlangsung 12 Jam, Internet Berpotensi Putus

May 23, 2026
Kenaikan Harga Oli Dinilai Jadi Alarm Tekanan Ekonomi Global ke RI
Pemerintahan

Kenaikan Harga Oli Dinilai Jadi Alarm Tekanan Ekonomi Global ke RI

May 23, 2026
DPR RI Auto Ramai! Video Diduga Dasco Sindir Jokowi Beredar Luas
Pemerintahan

DPR RI Auto Ramai! Video Diduga Dasco Sindir Jokowi Beredar Luas

May 22, 2026
Ahli Waris Alm Thamrin Pertanyakan Dasar Penolakan Santunan oleh PT Taspen
Bandar Lampung

Ahli Waris Alm Thamrin Pertanyakan Dasar Penolakan Santunan oleh PT Taspen

May 22, 2026
Majalahnarasi.id

© 2025 - Majalahnarasi.id

No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian

© 2025 - Majalahnarasi.id