MAJALAH NARASI– Penyair Muhammad Alfariezie kembali menorehkan kritik sosial melalui karyanya, puisi berjudul Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi. Puisi ini menghadirkan refleksi tajam tentang kondisi bangsa yang lahir dalam ketidaksempurnaan dan tumbuh di tengah kepasifan masyarakat, mengubah eksklusivitas sastra menjadi medium kritik politik dan sosial.
Puisi ini membuka dengan metafora yang kuat: “Ibu yang sedang sakit melahirkan republik”. Baris ini menjadi simbol kelahiran bangsa yang tidak ideal, sarat dengan tantangan sosial, pendidikan, dan kepemimpinan. Alih-alih menunjuk satu individu atau kelompok, Alfariezie menyoroti sistem dan perilaku kolektif, menekankan bahwa problematika bangsa lahir dari kebiasaan diam dan kepasifan warga yang mengetahui ketidakadilan namun enggan bertindak.
Dalam bait-baitnya, penyair menuliskan:
“Kita tersandera! Bukan oleh seseorang atau golongan. Kita tahu bohong mempengaruhi perasaan tapi selalu diam dengan yang ingkar.”
Menurut Alfariezie, kenyataan ini mencerminkan situasi di mana masyarakat memahami kebohongan dan ironi politik, namun tetap nyaman berada di zona aman. Kesadaran ini tidak berujung pada keberanian, melainkan pada pengamatan pasif, yang diibaratkan sebagai “menyanyi di tengah kenyataan yang retak”.
Puisi ini juga menyoroti budaya sosial yang kerap menikmati ironi sambil menonton tanpa ikut berkontribusi pada perubahan. Pernyataan “kita paham negeri ini ringkih dan mudah layu tapi hanya asyik memandang dan berpikir bahkan enggan beranjak untuk sebatas doa beriring hujan” menegaskan kritik terhadap sikap pasif dan kepasrahan, yang menurut Alfariezie, menjadi salah satu akar stagnasi perkembangan republik.
Menurut pengamat sastra kontemporer, Dita Haris, karya ini berhasil memadukan estetika sastra dan kritik sosial. “Alfariezie tidak hanya menulis puisi; dia menggunakan medium sastra untuk membuka dialog kritis tentang politik, moralitas, dan tanggung jawab kolektif,” ujarnya. Puisi ini mengingatkan bahwa krisis bangsa sering muncul dari keheningan yang diterima bersama, bukan dari kegaduhan publik semata.
*Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi* menjadi refleksi mendalam tentang bangsa yang sering menyadari masalahnya, namun enggan bergerak. Alfariezie menunjukkan bahwa perubahan sejati hanya bisa lahir jika masyarakat berani bertindak, bukan sekadar memahami dan menonton. Puisi ini mengubah eksklusivitas sastra menjadi alat pendidikan moral, sekaligus kritik politik yang relevan dengan dinamika sosial kontemporer, sehingga membuka ruang diskusi lebih luas bagi generasi muda dan penggiat literasi.
Dengan demikian, karya Alfariezie menegaskan bahwa sastra tidak hanya menjadi hiburan atau estetika belaka, tetapi juga medium untuk membangkitkan kesadaran kritis dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi realitas sosial dan politik bangsa.***













