MAJALAH NARASI— Muhammad Alfariezie kembali menarik perhatian publik melalui karya puisinya yang kontroversial dan sarat makna, “Gadis SMA yang Menggugah.” Puisi ini menghadirkan potret sosial yang kompleks dan getir: seorang gadis muda menjadi pusat tatapan, godaan, dan bahkan obsesi dari berbagai sosok laki-laki dewasa, sekaligus mencerminkan ironi moral masyarakat.
Puisi ini dibuka dengan bait yang langsung menohok:
Gadis SMA yang menggugah
laki-laki dewasa—dia berjalan
menanjak tanpa seorang pun
mengantar pulang
Baris-baris awal ini menegaskan posisi gadis sebagai objek pandangan, bukan sebagai subjek yang menatap balik. Kata “menggugah” memiliki makna berlapis: bisa mempesona, tetapi juga membangkitkan hasrat tersembunyi. Penyebutan “laki-laki dewasa” secara eksplisit menyoroti jarak usia dan kuasa, sekaligus memberikan kritik tersirat pada patriarki yang memposisikan perempuan muda sebagai objek sosial dan erotik.
Alfariezie menggunakan puisi ini sebagai alat kritik sosial yang memotret fenomena male gaze, di mana perempuan hadir sebagai objek tatapan dalam karya seni dan kehidupan sehari-hari. Tubuh gadis muda bukan hanya dianggap estetis, tetapi juga sebagai medan tarik antara kagum dan nafsu, antara keindahan dan ironi moral.
Dalam bait berikutnya, penyair menghadirkan metafora yang kompleks:
Musykil jika enggak punya teman
sebab rupanya awan yang selalu
memberi ruang pesawat terbang
Metafora “awan” dan “pesawat” mengisyaratkan relasi antara ruang dan tubuh, kelembutan dan penetrasi, yang menyiratkan sensualitas terselubung tanpa menjadi vulgar. Bahasa sublim ini menunjukkan kemampuan Alfariezie mengemas isu erotisme dan kekuasaan dalam bentuk estetis.
Kontras sosial muncul pada bait selanjutnya:
Anggun semampainya
mengalahkan bening istri pejabat
Di sini, tubuh perempuan muda menjadi tolok ukur yang “mengalahkan” perempuan lain, yang sering kali diasosiasikan dengan status sosial atau kekuasaan. Tubuh gadis SMA dijadikan medan kompetisi antarperempuan oleh pengaruh pandangan laki-laki, menyingkap bagaimana kecantikan dijadikan simbol sosial, bukan pengalaman personal.
Bait terakhir menghadirkan ironi moral dan satir:
Gadis SMA yang menggugah
laki-laki beristri tiga—keringatnya
tumpah di halaman saat hendak
membuka pintu rumah
Frasa “laki-laki beristri tiga” menggambarkan kemunafikan sosial. Mereka yang secara publik menunjukkan moralitas atau religiusitas, diam-diam menuruti obsesi dan syahwat terhadap perempuan muda. Keringat yang “tumpah di halaman” menjadi metafora rasa bersalah, hasrat yang tertahan, atau kelelahan moral, menghadirkan ironi yang kuat terhadap perilaku patriarkal dan hipokrisi masyarakat.
Dari sudut pandang sosiologi sastra, puisi ini adalah cerminan budaya yang menormalisasi penghakiman ganda: masyarakat mengagungkan kesucian perempuan, namun memandang tubuhnya dengan hasrat tersembunyi. Dalam perspektif feminisme, Alfariezie menyoroti bagaimana perempuan muda direduksi menjadi objek, bukan subjek, dan bagaimana patriarki terus mendikte cara pandang sosial terhadap tubuh perempuan.
Alfariezie juga menggunakan pengulangan frasa “Gadis SMA yang menggugah” sebagai alat retoris, menekankan intensitas imaji sosial terhadap perempuan muda. Diksi seperti “anggun semampainya”, “bening istri pejabat”, dan “keringat tumpah” menciptakan kontras antara keindahan, sensualitas terselubung, dan kenyataan getir. Struktur naratif-liris ini menghadirkan puisi layaknya potongan film sosial yang ironis, di mana setiap bait menceritakan fragmentasi realitas masyarakat.
Secara keseluruhan, puisi “Gadis SMA yang Menggugah” bukan sekadar memuja kecantikan perempuan muda, tetapi mengungkapkan hipokrisi moral, struktur patriarkal, dan obsesi sosial yang tersembunyi di balik pandangan masyarakat. Karya ini menjadi refleksi mendalam tentang kekuasaan, moralitas, dan dinamika sosial yang masih relevan dalam konteks budaya modern Indonesia.***














