• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan & Kerjasama
  • Kontributor
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontak
Friday, June 19, 2026
Majalahnarasi.id
Advertisement
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
Majalahnarasi.id
No Result
View All Result
Home Pemerintahan Bandar Lampung

Kritik Postmodern Puisi “Mati Dalam Sunyi (2025)” Karya Muhammad Alfariezie: Dekonstruksi Cinta dan Kehampaan Eksistensial

by Melda
October 15, 2025
in Bandar Lampung
Kritik Postmodern Puisi “Mati Dalam Sunyi (2025)” Karya Muhammad Alfariezie: Dekonstruksi Cinta dan Kehampaan Eksistensial
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MAJALAH NARASI– Puisi kontemporer “Mati Dalam Sunyi” karya Muhammad Alfariezie menyajikan kisah tragis sepasang kekasih yang memilih hidup eksklusif berdua, meninggalkan keluarga dan masyarakat. Mereka percaya cinta dapat menjadi dunia yang cukup, namun justru berakhir dalam kematian dan kesunyian. Meski singkat, karya ini kaya makna dan relevan dianalisis melalui lensa postmodernisme — menolak kebenaran tunggal, menyoroti fragmentasi makna, dekonstruksi nilai, serta ironi eksistensial manusia.

Puisi tersebut menggugat metanarasi modern tentang cinta ideal, menegaskan bahwa cinta bukan jaminan kebahagiaan. Bait pembuka menegaskan keputusan radikal pasangan:

“Sepasang kekasih mati
dalam sunyi pasca-sepakat
melupakan teman-orang tua
karena memilih hidup berdua”

Berita Lainnya

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung

Keputusan ini menandakan penolakan terhadap norma sosial dan moral konvensional. Mereka hidup dalam narasi kecil, “berdua saja”, yang mereka kira cukup untuk menampung makna hidup. Namun, kebahagiaan yang mereka bayangkan tidak tercapai. Lyotard menekankan ketidakpercayaan terhadap narasi besar, dan puisi ini menggambarkan bagaimana narasi kecil pun rapuh ketika realitas kehidupan menghadang.

Dalam perspektif Derrida, puisi ini mendekonstruksi romantisme. Kata-kata yang awalnya romantis, seperti “berdua saja” dan “menari ombak, bernyanyi karang”, justru berubah menjadi ironi tragis. Bait akhir puisi:

“dan mereka marah hingga saling tujah
karena betapa lapar dan dahaga hidup
hanya berdua”

menunjukkan runtuhnya cinta sebagai simbol kebahagiaan. Hierarki makna dibalik romantisme diputarbalikkan: sesuatu yang dianggap luhur justru menjadi sumber penderitaan. Sunyi menjadi simbol kehampaan yang lahir dari pilihan eksklusif mereka, sekaligus cerminan isolasi eksistensial di era pascamodern.

Jean Baudrillard menyoroti konsep simulakra — realitas yang kehilangan keaslian karena meniru bayangan. Puisi ini menggambarkan pasangan kekasih yang hidup dalam simulasi cinta. Dunia “berdua saja” adalah dunia semu, indah di permukaan namun rapuh ketika realitas hidup (lapar, dahaga, keterbatasan) datang. Tragedi pada akhir puisi menegaskan kehancuran simulakra itu, memperlihatkan pertemuan pahit antara ilusi dan kenyataan.

Struktur puisi yang fragmentaris dan non-linear juga menekankan karakter postmodern: realitas yang tercerai-berai, tanpa jawaban pasti. Tidak ada penjelasan tentang siapa mereka, di mana, atau bagaimana kematian terjadi. “Sunyi” menjadi ruang interpretasi pembaca. Dalam logika postmodern, pembacalah yang membangun makna, sehingga puisi ini bersifat terbuka dan memungkinkan berbagai interpretasi — sebagai kehancuran cinta, kegagalan eksistensial, atau metafora isolasi sosial modern.

Kesimpulannya, “Mati Dalam Sunyi (2025)” merupakan representasi kuat postmodernisme dalam sastra Indonesia. Dengan bahasa sederhana namun paradoksal, Alfariezie menggugat klaim lama tentang cinta, kebahagiaan, dan makna hidup. Menggunakan perspektif Lyotard, Derrida, dan Baudrillard, puisi ini menunjukkan bahwa:

  • Tidak ada kebenaran tunggal tentang cinta (Lyotard);
  • Cinta dapat didekonstruksi menjadi sumber penderitaan (Derrida);
  • Dunia cinta yang dibangun hanyalah simulasi rapuh (Baudrillard).

Akhirnya, “Mati Dalam Sunyi” menjadi potret manusia postmodern yang terperangkap dalam ilusi cinta dan kehilangan arah di tengah sunyi dunia yang mereka ciptakan sendiri, sekaligus mengundang pembaca untuk merenungkan hakikat kebahagiaan, eksistensi, dan hubungan manusia dengan masyarakat.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: DekonstruksiCintaMatiDalamSunyiMuhammadAlfarieziePuisiPostmodernSastraIndonesia
Previous Post

Lampung Selatan Lantik 8 Camat Baru, Bupati Radityo Tegaskan Jabatan adalah Amanah untuk Melayani Rakyat

Next Post

Peluncuran Fakultas Kedokteran Gigi, Profesi Dietisien, dan Halal Center di Universitas Aisyah Pringsewu Jadi Tonggak Baru Kemandirian Kesehatan Lampung

Melda

Melda

Related Posts

Bandar Lampung

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

by Melda
June 18, 2026
Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas
Bandar Lampung

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

by Melda
June 18, 2026
MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung
Bandar Lampung

MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung

by Melda
June 13, 2026
Jaksa KPK Cegat Alasan Budaya Ketimuran dalam Pemberian Rp500 Juta kepada Pejabat
Bandar Lampung

Jaksa KPK Cegat Alasan Budaya Ketimuran dalam Pemberian Rp500 Juta kepada Pejabat

by Melda
June 12, 2026
Bandar Lampung

Hermawan Eriadi Klaim Hanya Seorang Profesional yang Berjuang untuk Kemajuan Lampung

by Melda
June 12, 2026
Next Post
Peluncuran Fakultas Kedokteran Gigi, Profesi Dietisien, dan Halal Center di Universitas Aisyah Pringsewu Jadi Tonggak Baru Kemandirian Kesehatan Lampung

Peluncuran Fakultas Kedokteran Gigi, Profesi Dietisien, dan Halal Center di Universitas Aisyah Pringsewu Jadi Tonggak Baru Kemandirian Kesehatan Lampung

Recommended

Wali Kota Bandar Lampung Bicara Transformasi Digital, Tapi DPRD Kota Justru “Buta Teknologi”!

Wali Kota Bandar Lampung Bicara Transformasi Digital, Tapi DPRD Kota Justru “Buta Teknologi”!

October 6, 2025
Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan

Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan

June 17, 2026

Categories

  • Bandar Lampung
  • Beasiswa & Karir
  • Berita Pendidikan
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Literasi & Budaya
  • Metro
  • Multimedia
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Riset & Opini
  • Tanggamus
  • Teknologi Pendidikan
  • Tips Belajar & Ujian
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Don't miss it

Bandar Lampung

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

June 18, 2026
Dikaitkan dengan Pungli BOS, Kabid Dikdas Lampung Selatan Minta Hak Jawab Dipublikasikan
Berita Pendidikan

Dikaitkan dengan Pungli BOS, Kabid Dikdas Lampung Selatan Minta Hak Jawab Dipublikasikan

June 18, 2026
Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas
Bandar Lampung

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

June 18, 2026
Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan
Berita Pendidikan

Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan

June 17, 2026
Abdullah Sani Laporkan Dugaan Pelanggaran Yayasan Siger Setelah Aduan ke Kajati Lampung
Berita Pendidikan

Abdullah Sani Laporkan Dugaan Pelanggaran Yayasan Siger Setelah Aduan ke Kajati Lampung

June 17, 2026
Berkedok Liburan, Iuran Paksaan MKKS Lampung Selatan Dingatkan Pengamat: ASN Bukan Plesiran Saat PPDB!
Berita Pendidikan

Berkedok Liburan, Iuran Paksaan MKKS Lampung Selatan Dingatkan Pengamat: ASN Bukan Plesiran Saat PPDB!

June 16, 2026
Majalahnarasi.id

© 2025 - Majalahnarasi.id

No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian

© 2025 - Majalahnarasi.id