• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan & Kerjasama
  • Kontributor
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontak
Friday, June 19, 2026
Majalahnarasi.id
Advertisement
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian
No Result
View All Result
Majalahnarasi.id
No Result
View All Result
Home Pemerintahan Bandar Lampung

Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironis Rakyat di Tengah Kapital dan Kekuasaan

by Melda
October 8, 2025
in Bandar Lampung
Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironis Rakyat di Tengah Kapital dan Kekuasaan
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MAJALAH NARASI– Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” karya penyair Muhammad Alfariezie hadir sebagai kritik tajam terhadap realitas sosial-politik yang lahir dari ketimpangan ekonomi, praktik korupsi struktural, dan dominasi elit birokrasi. Melalui diksi yang satir, penyair asal Bandar Lampung ini menyingkap wajah kekuasaan yang menindas rakyat lewat kebijakan dan regulasi yang koruptif, serta menunjukkan bagaimana rakyat sering kali menjadi korban sekaligus alat legitimasi sistem yang menindas mereka sendiri.

Puisi ini dapat dibaca melalui perspektif teori Marxis sebagai potret perjuangan kelas antara kaum berkuasa — yang diwakili oleh birokrasi dan elit kapitalis — dan rakyat kecil yang tertindas oleh sistem. Berikut puisi karya Alfariezie:

Sembilan Miliar Kebodohan Kita

Berita Lainnya

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung

Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari

Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra
sejahtera

Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan

Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet
merah untuk wali kota bikin
sekolah

Sekolah yang telah nyata
tidak peduli sembilan miliar

Bayangkan betapa kita
bodoh! Senang pula
membaca berita: “wali kota
bikin sekolah swasta untuk
keluarganya bahagia”

Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara

Bandar Lampung, 2025

Latar Sosial dan Kritik Kekuasaan

Bait pertama puisi langsung menegaskan sikap penyair terhadap praktik kekuasaan yang tidak pro-rakyat:

“Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari.”

Diksi “harga satu regulasi” menyoroti bagaimana kebijakan publik telah dikomodifikasi dan dijadikan alat transaksi elit. Dalam perspektif Marxis, fenomena ini menunjukkan bagaimana negara berfungsi untuk melayani kepentingan kelas penguasa, bukan rakyat. Regulasi yang seharusnya menjadi instrumen keadilan sosial justru beralih menjadi sarana akumulasi modal dan legitimasi kekuasaan.

Korupsi, Ketimpangan Kelas, dan Eksploitasi Publik

Bait selanjutnya menyoroti jurang sosial yang lebar antara elit dan rakyat:

“Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra
sejahtera.”

Penyair menyingkap paradoks pendidikan: sementara elit hidup mewah, rakyat miskin harus menanggung dampak sistem yang tidak adil. Kepala sekolah yang memiliki mobil mewah bukan lagi simbol kemajuan, tetapi cerminan kapitalisme yang telah menembus institusi publik. Pendidikan, yang seharusnya menjadi sarana pembebasan rakyat, justru dijadikan alat reproduksi ketimpangan sosial.

Rakyat Pasif dan Kesadaran Palsu

Puisi ini juga menyoroti peran rakyat yang pasif dan mudah terbuai oleh ideologi penguasa:

“Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan.”

Rakyat digambarkan sebagai bagian dari sistem penindasan itu sendiri melalui fenomena “false consciousness,” di mana mereka tidak menyadari ketertindasan yang dialami dan bahkan ikut melanggengkan ketidakadilan.

“Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet merah
untuk wali kota bikin sekolah.”

Alfariezie menekankan bahwa rakyat yang pasif justru memberikan legitimasi terhadap praktik korupsi dan ketimpangan, sehingga sistem terus berjalan tanpa kontrol sosial yang efektif.

Ironi Kekuasaan dan Penjarahan Dana Publik

Bait-bait akhir puisi memunculkan kritik keras terhadap eksploitasi ekonomi yang sistemik:

“Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara.”

Angka “9 miliar” menjadi simbol akumulasi kapital dan penjarahan dana publik. Dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat malah digunakan untuk kepentingan pribadi elit. Dalam terminologi Marxis, hal ini dapat dianalogikan sebagai pemerasan surplus value, bukan terhadap buruh industri, tetapi terhadap hak publik dan kas negara.

Puisi sebagai Alat Perlawanan dan Kesadaran Kelas

Sastra Marxis menekankan bahwa puisi bukan hanya medium estetika, tetapi juga alat kritik sosial dan ideologis. Puisi Muhammad Alfariezie menolak sikap pasrah dan menyeru munculnya kesadaran baru di kalangan rakyat. Ia mengingatkan bahwa keadilan sosial tidak akan lahir dari simbol-simbol kekuasaan seperti karpet merah dan proyek elit, tetapi dari kesadaran rakyat untuk memahami posisi mereka dalam struktur penindasan dan bertindak nyata.

Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh sindiran tajam, puisi ini menelanjangi wajah kapitalisme birokratis di tingkat lokal, sekaligus menjadi cermin perjuangan ideologis yang mendorong rakyat untuk berpikir kritis, menuntut transparansi, dan melawan ketimpangan. “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” bukan sekadar karya sastra, tetapi seruan agar masyarakat sadar dan berani menuntut keadilan.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: analisis sastraketimpangan sosialkorupsi birokrasikritik marxisliteratur IndonesiaMuhammad Alfarieziependidikan dan kekuasaanpuisi kritisrakyat kecilsastra sosial politik
Previous Post

Ketua DPD PA GMNI Lampung Dorong Sahabat Marinda 54 Terus Bergerak Membela Kepentingan Rakyat

Next Post

Ferry Ambil Langkah Hukum Serius, 5 Akun TikTok Dilaporkan ke Polda Lampung: Sebar Data Pribadi dan Fitnah Keluarga

Melda

Melda

Related Posts

Bandar Lampung

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

by Melda
June 18, 2026
Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas
Bandar Lampung

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

by Melda
June 18, 2026
MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung
Bandar Lampung

MoU Himperra-BRI Jadi Langkah Nyata Dorong Pertumbuhan Sektor Properti di Lampung

by Melda
June 13, 2026
Jaksa KPK Cegat Alasan Budaya Ketimuran dalam Pemberian Rp500 Juta kepada Pejabat
Bandar Lampung

Jaksa KPK Cegat Alasan Budaya Ketimuran dalam Pemberian Rp500 Juta kepada Pejabat

by Melda
June 12, 2026
Bandar Lampung

Hermawan Eriadi Klaim Hanya Seorang Profesional yang Berjuang untuk Kemajuan Lampung

by Melda
June 12, 2026
Next Post
Ferry Ambil Langkah Hukum Serius, 5 Akun TikTok Dilaporkan ke Polda Lampung: Sebar Data Pribadi dan Fitnah Keluarga

Ferry Ambil Langkah Hukum Serius, 5 Akun TikTok Dilaporkan ke Polda Lampung: Sebar Data Pribadi dan Fitnah Keluarga

Recommended

Aparat Pekon Apresiasi Sosialisasi PTSL, BPN Pringsewu Dinilai Mempermudah Pemahaman Masyarakat

Aparat Pekon Apresiasi Sosialisasi PTSL, BPN Pringsewu Dinilai Mempermudah Pemahaman Masyarakat

October 2, 2025
Harumkan Lampung, SDN 2 Branti Raya Natar Borong Piala LKBB Nasional dan Kejuaraan Renang

Harumkan Lampung, SDN 2 Branti Raya Natar Borong Piala LKBB Nasional dan Kejuaraan Renang

June 3, 2026

Categories

  • Bandar Lampung
  • Beasiswa & Karir
  • Berita Pendidikan
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Literasi & Budaya
  • Metro
  • Multimedia
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Riset & Opini
  • Tanggamus
  • Teknologi Pendidikan
  • Tips Belajar & Ujian
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Don't miss it

Bandar Lampung

Suasana Berbeda Warnai Sidang PT LEB, Ketegangan Berganti Senyum Menjelang Vonis

June 18, 2026
Dikaitkan dengan Pungli BOS, Kabid Dikdas Lampung Selatan Minta Hak Jawab Dipublikasikan
Berita Pendidikan

Dikaitkan dengan Pungli BOS, Kabid Dikdas Lampung Selatan Minta Hak Jawab Dipublikasikan

June 18, 2026
Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas
Bandar Lampung

Anggota Datangi Rumah Bendahara, Hak Tabungan di KPRI Handayani Belum Jelas

June 18, 2026
Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan
Berita Pendidikan

Surat Terbuka untuk Eva Dwiana Viral, Singgung Infrastruktur hingga Polemik Pendidikan

June 17, 2026
Abdullah Sani Laporkan Dugaan Pelanggaran Yayasan Siger Setelah Aduan ke Kajati Lampung
Berita Pendidikan

Abdullah Sani Laporkan Dugaan Pelanggaran Yayasan Siger Setelah Aduan ke Kajati Lampung

June 17, 2026
Berkedok Liburan, Iuran Paksaan MKKS Lampung Selatan Dingatkan Pengamat: ASN Bukan Plesiran Saat PPDB!
Berita Pendidikan

Berkedok Liburan, Iuran Paksaan MKKS Lampung Selatan Dingatkan Pengamat: ASN Bukan Plesiran Saat PPDB!

June 16, 2026
Majalahnarasi.id

© 2025 - Majalahnarasi.id

No Result
View All Result
  • Berita Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Beasiswa & Karir
  • Kesehatan & Psikologi
  • Komunitas & Event
  • Lainnya
    • Literasi & Budaya
    • Multimedia
    • Riset & Opini
    • Teknologi Pendidikan
    • Tips Belajar & Ujian

© 2025 - Majalahnarasi.id